Welcome to my blog temans.... Jangan lupa tinggalkan comment yaa...

Saat Komitmen dan Kesabaran Diuji

Selasa, 28 Februari 2017
0 comments

Perjalanan dalam melatih anak untuk bisa makan sendiri tidak selalu mulus. Adakalanya saat komitmen dan kesabaran kita diuji.

Dua hari ini rupanya hafidz sedang menguji kesabaran bunda dalam hal makan. Sarapan adalah waktu yang paling tidak kondusif bagi hafidz untuk makan sendiri. Biasanya dia gampang sekali terpecah fokusnya di pagi hari. Makanannya sering tidak habis karena ingin cepat-cepat jalan-jalan ke luar atau mengantuk atau pup atau minta nenen, dan lain-lain. Kondisi ini membuat bunda berpikir ulang bagaimana mengkondisikan hafidz untuk bisa sarapan dengan tenang dan fokus.

Makan siang yang diharapkan bisa habis karena seharusnya hafidz lapar akibat sarapannya kurang maksimal pun berakhir dengan makanannya yang berantakan ia buat mainan. Dipindahkan antara piring satu ke piring lain. Kalau disuapi bunda malah dilepeh. Sabar... Sabar...

Makan malamnya pun 2 hari ini nasibnya sama. Apabila bunda tidak menyuapi hafidz maka sedikit sekali makanan yang masuk.

Saya sadar hafidz masih dalam masa suka bereksplorasi hal-hal baru dan mudah bosan. Namun, kendala-kendala ini harus ada jalan keluarnya agar proses belajar terus berjalan. Semoga saya bisa segera menemukan solusinya.

#hari4
#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

#odopfor99days
#day18

Baca selengkapnya »

Mengenalkan Garpu pada Hafidz

Minggu, 26 Februari 2017
0 comments

Setelah melihat dan mengevaluasi bagaimana hafidz makan, ternyata hafidz agak kesusahan menggunakan sendok untuk menyendok lauk yang ukurannya lebih besar dari sendoknya. Akhirnya saya berinisiatif mengenalkan garpu pada hafidz dan mengajarkan cara penggunaannya.

Pada awalnya saya menggunakan telur dadar yang sudah dipotong-potong sebagai media mengenalkan garpu. Saya ajarkan penggunaan garpu dengan cara ditusuk pada telur dadarnya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Setelah saya ajarkan, hafidz bisa dengan cepat mencontohnya dan menghabiskan telur dadarnya. Alhamdulillah, good job boy...

Pada sore harinya saya coba mengajarkan penggunaan garpu pada media bihun goreng. Dia enjoy sekali memakan bihun gorengnya, walaupun tidak sampai habis tapi lebih baik daripada ketika ia menggunakan sendok atau tangan.

Pelajaran untuk saya kali ini adalah ketika anak belum berhasil dalam melakukan tantangan kemandiriannya, sebagai seorang ibu kita harus jeli. Barangkali alat yang kita berikan kurang tepat atau kita yang belum mengajarkannya. Teruslah mencoba sampai akhirnya berhasil. Yes, I can!

#hari3
#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

#odopfor99days
#day17

Baca selengkapnya »

Kita Tidak Akan Pernah Tahu Apabila Kita Tidak Membiarkannya Untuk Mencoba

Sabtu, 25 Februari 2017
0 comments

Ya, membiarkan anak untuk mencoba apapun hasilnya menjadi salah satu tantangan bagi saya dalam melatih hafidz makan. Kemarin hafidz agak mengalami kemunduran dalam belajar makan. Ceritanya menu kemarin adalah soto ayam, bunda ragu apakah hafidz bisa makan soto ayam dan nasi, takut klo tumpah dan tercecer kemudian keseleg ayam, ditambah padatnya jadwal produksi dan kedatangan saudara ke rumah. Akhirnya kemarin bunda memutuskan untuk kembali menyuapi hafidz.

Yang masih konsisten dilakukan oleh hafidz sendiri adalah minum sendiri, makan roti sendiri dan makan buah sendiri.

Yang membuat saya tertampar adalah pada kejadian hari ini. Hari ini menu makannya hampir sama dengan kemarin yaitu soto daging dan telur ayam rebus. Pada awalnya saya hanya memberikan telur ayam rebus yang sudah dipotong-potong kepada hafidz. Soto daging dan nasi niatnya saya suapi. Namun, ketika Hafidz sudah bisa menghabiskan telur ayam dan meminta bagian yang saya suapi dia makan sendiri, ternyata dia bisa menyuapi dirinya sendiri dengan sendok.

Ya Allah, saya terharu....

Bagaimana apabila saya tidak mengizinkannya untuk menyuapi dirinya sendiri.

Pasti sampai saat ini saya tidak pernah tau apakah hafidz sudah bisa menyendok sendiri dan memasukkannya ke dalam mulut.

Ternyata, kuncinya adalah membuat tekstur nasi soto yang tidak terlalu cair, mirip tekstur bubur. Ketika teksturnya kental hafidz jadi mudah menyendoknya.

#Level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

#ODOPfor99days
#day16

Baca selengkapnya »

Melatih hafidz makan sendiri - hari pertama

Jumat, 24 Februari 2017
0 comments


Hafidz (13 mo) saat ini sedang semangat-semangatnya belajar makan. Terbukti setiap kali makan ia ingin bagiannya sendiri untuk dia makan sendiri, walaupun kadang masih belum bisa fokus menghabiskan makannya. Oleh karena itu, momen ini saya manfaatkan untuk penugasan kuliah bunda sayang iip, melatih kemandirian anak.

Pagi ini hafidz makan buah pepaya sendiri, namun tidak dia habiskan karena konsentrasinya terpecah. Bunda terburu-buru mengeluarkan menu sarapannya. Catatan untuk bunda agar tidak mengganggu konsentrasi hafidz ketika makan.

Menu sarapannya hafidz nasi, sayur asem, dadar jagung, dan ati ayam. Bunda menyediakan 3 tempat makan untuk hafidz. 1 untuk tempat sayur, 1 untuk tempat makanan kering agar hafidz mudah memakannya menggunakan tangan, 1 untuk tempat nasi. Nasinya dikepal bentuk bulat-bulat kecil agar hafidz mudah mengambilnya menggunakan tangan.

Ternyata hafidz lebih memilih menggunakan sendok. Dan tempat makan yang dia pilih adalah yang berisi sayur asem. Yang lain tidak ia sentuh. Awalnya hafidz hanya mengaduk-ngaduk sayur asemnya. Namun, setelah bunda memasukkan nasi dan lauk kering ke sayur asem, ia jadi mau menyendok dan memasukkannya ke mulut.

Proses menyendok dan memasukkan ke mulutnya ternyata tidak lama, karena setelah itu ia malah bermain memindahkan makanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Akhirnya bunda menyingkirkan tempat nasi dan tempat lauk kering agar hafidz bisa fokus menyendok makanannya. Ternyata hafidz malah mendatangi bunda dan minta nenen. Jadi selesai lah sarapan hafidz pagi tadi.

Siang harinya bunda mengganti cara makannya hafidz. Menu makannya hafidz semur daging, nasi, kentang, tahu bakso, dan dadar jagung. Piring yang bunda berikan ke hafidz berisi dadar jagung, kentang, dan tahu bakso. Yang di bawa bunda nasi dan semur daging.

Karena pagi tadi makanan yang masuk tidak terlalu banyak, maka makan siang kali ini hafidz lumayan lahap memakan makanannya. Dadar jagung dan tahu baksonya ludes ia makan. Sambil sesekali bunda menyuapi nasi dan semur daging. Kentangnya tidak ia makan. Mungkin karena potongannya yang tidak ramah digenggam. Akhirnya kentangnya disuapin bunda dan habis. Yang tersisa hanya nasi & semur daging yang sudah berkurang separuhnya. Alhamdulillah. Makan siang kali ini lumayan lancar.

Makan malamnya menunya perpaduan nasi, sayur asem, dadar jagung, tahu bakso, bihun goreng. Bunda memberikan piring yang berisi bihun goreng kepada hafidz. Hafidz bersemangat makan bihun goreng, walaupun makanannya tercecer dimana-mana. Evaluasi bunda, bihun gorengnya seharusnya dipotong agak pendek agar memudahkan hafidz makan. Kalau terlalu panjang dia sering kali melepehnya. Makan malam kali ini dia tidak terlalu fokus karena mbah utinya sudah di rumah jadi ia bolak-balik jalan ke dapur. Tidak menyelesaikan makanannya. Akhirnya bunda menyuapi makanannya hafidz karena makan sendirinya sudah tidak kondusif lagi.

Evaluasi hari ini secara umum adalah sangat penting untuk menjaga fokus dan konsentrasinya hafidz saat makan agar ia bisa menyelesaikan makanannya. Semoga hari-hari selanjutnya bisa lebih baik dan hafidz akhirnya bisa makan sendiri. Aamiin Yaa Rabb.

#Level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

#ODOPfor99days
#day15

Baca selengkapnya »

Aliran Rasa Komunikasi Produktif Kuliah Bunda Sayang IIP

Sabtu, 18 Februari 2017
0 comments

Selama mengikuti tantangan 10 hari komunikasi produktif saya jadi lebih mengedepankan diskusi dan komunikasi sebelum melakukan sesuatu. Terutama sesuatu yang penting.

Sebelum mengikuti kuliah bunsay IIP komunikasi produktif saya lebih sering baper (kebawa perasaan) dan emosi yang saya telan sendiri, kemudian saya sadari ini menjadi tidak produktif. Saya kemudian mencari akar permasalahannya dan mencari solusinya dengan diskusi dengan pasangan. Alhamdulillah semua menjadi lebih menyenangkan.

Saya yang sebelumnya cenderung bersikap skeptis terhadap sesuatu, sekarang ini menjadi lebih positif menyikapi sesuati dengan merubah mindset (komunikasi dengan diri sendiri).

Komunikasi dengan anak saya juga Alhamdulillah sekarang banyak mengalami kemajuan. Kami jadi mengidentifikasi gesture-gesture baru untuk memudahkan berkomunikasi dan anak saya menjadi lebih mudah menyampaikan apa yang ia maksud. Walaupun hanya dengan gesture tubuh, karena dia belum bisa berbicara.

Overall, banyak perubahan yang terjadi dalam keluarga saya setelah saya mengikuti kuliah bunsay iip komunikasi produktif. Terima kasih Bu Septi dan semua Tim Fasilitator yang membantu kami untuk menjadi lebih baik.

#komunikasiproduktif
#bundasayang
#iip

#ODOPfor99days
#day14

Baca selengkapnya »

"Mendadak" City Tour Bersama Hafidz

Rabu, 15 Februari 2017
0 comments


Senin kemarin kami sekeluarga mengantarkan budhe & pakdhe yang bertolak ke tanah suci untuk melalsanakan ibadah umroh. Si kecil hafidz pun tak mau ketinggalan. Alhamdulillah hafidz bisa diajak kerjasama bangun jam 3 pagi kemudian mandi, walaupun matanya masih terkantuk-kantuk.

Kami sekeluarga naik mobil sewaan menuju ke bandara berangkat jam 4 tet dari rumah budhe. Di mobil hafidz hanya melihat-lihat dari kaca mobil, tidak terlalu excited, apa mungkin efek masih mengantuk. Sesampainya di bandara juanda kami langsung mencari musholla. Hafidz masih tenang.

Setelah sholat subuh, kami melihat di CS bandara bisa meminjamkan stroller gratis. Kami pun meminjam satu untuk hafidz untuk memudahkan mobilitas kami. Ketika kami memasuki salah satu restoran di dalam bandara untuk sarapan, hafidz memaksa keluar dari stroller. Ia ingin ikut makan di meja dan kursi seperti kami, bukan di stroller. Hihihi.... Seperti orang dewasa saja dia. Dan ia pun makan dengan lahapnya walaupun sedikit berantakan.

Setelah budhe & pakdhe memasuki ruangan untuk check in. Kami pun pulang. Sebelum pulang kami berpikir "Mau naik apa ya pulangnya?". Mobil sewaannya sudah balik, karena supirnya ada keperluan. Naik taxi bandara jelas mahal, kami juga ada dua tujuan. Naik taxi online, pas aplikasinya lama loadongnya. Akhirnya kami naik bus damri bandara dengan pertimbangan efisiensi biaya. *emakemakirit*

Hafidz yang sebelumnya hanya melihat bus di buku, kini bisa merasakan langsung naik bus. Hafidz senang sekali bisa melihat pemandangan sekitar dengan kaca yang lebih besar daripada mobil. Tiap ada hal yang menarik di menunjuk-nunjuknya. Apabila ada orang yang sedang lewat di trotoar dia melambaikan tangan dari dalam bus dan cium jauh.

Perjalanan naik bus pun masih berlanjut. Sesampainya di terminal. Kami naik bus jurusan THR yang paling dekat dengan rumah dan bus jurusan THR hanya ada bus yang menggunakan AC alias angin cendela. Setengah jam kami menunggu di dalam bus sampai busnya penuh. Kepanasan, keringat dan bau rokok sudah melebur menjadi satu. Tapi hafidz enjoy-enjoy saja. Hahaha. Apalagi ketika busnya berjalan, dia malah asyik bersenda gurau bersama kami.

Sudah lama saya tidak naik bus. Saya lebih memilih naik motor atau naik mobil atau naik kereta api di banding naik bus dengan alasan kepraktisan. City tour bersama hafidz kali ini mengingatkan saya semasa SMA-kuliah yang tiap hari PP naik bus sampai-sampai sering ketiduran di bus.

Sesampainya di THR, kami melanjutkan perjalanan naik becak sampai ke rumah. Di dalam becak dia minta nenen, mungkin karena kehausan, hanya sesekali melihat pemandangan sekitar. Alhamdulillah kami sampai di rumah dengan selamat. Sesampainya di rumah hafidz kemudian tidur lumayan lama. Semoga pengalaman hari senin kemarin berkesan dan membawa manfaat buatmu ya nak.

#fitrahbelajar
#odopfor99days
#day13

Baca selengkapnya »

Ketika Hal yang Tidak Diharapkan Terjadi

Jumat, 10 Februari 2017
2 comments


Kemarin Hafidz rupanya sedang mencoba kemampuan barunya yaitu memanjat dan melompati pagar tempat tidur. Kami berdua yang berada di ruang tamu kaget karena ada suara "Braaak". Ya, hafidz terjatuh dari tempat tidur setelah berhasil melewati pagar tempat tidur yang terkunci luar dalam. Tinggi pagarnya kira2 seukuran dadanya hafidz. Tinggi pagar+tempat tidurnya kurang lebih 1meter lebih.

Saya gendong hafidz yang seketika pecah tangisnya. Alhamdulillah posisi jatuhnya terduduk dengan kepala bersandar di lemari. Saya susui hafidz yang masih terisak, sambil berdoa, semoga hafidz baik-baik saja. Sambil ngASI, saya mencoba memijat bagian kepala hafidz untuk memeriksa bagian yang sakit, ternyata dahi kanannya benjol dan agak memar. Saya pijat tangan & tubuhnya, aman. Hafidz tidak meronta kesakitan. Ketika saya pijat bagian kaki, hafidz agak meronta.

Setelah hafidz tenang dan selesai menyusui saya tanya ke hafidz. "Hafidz yang sakit mana, sayang?"
Hafidz menunjuk ke kaki. Kemudian saya bertanya lagi. "Hafidz kepalanya sakit?" Sambil menepuk kepala, sebagai gesture kalau saya menanyakan keadaan kepalanya. Dia menunjuk bagian yang benjol di dahinya. Saya berkata kepada hafidz "Hafidz sayang, kalau mau keluar kamar panggil ayah atau bunda ya. Atau hafidz nangis aja, biar ayah bunda dengar" Hafidz kemudian menunjuk lemari. Saya tanya lagi "Hafidz tadi kepalanya kena lemari?" Sambil menepuk kepala dan menunjuk lemari. Hafidz hanya berkata "Hu, hu, hu" sambil menunjuk lemari dan lantai.

Setelah pembicaraan itu hafidz beraktivitas seperti biasa. Masih excited ketika membaca buku seri hewan halal dan masih bisa berdiri dan dititah seperti biasanya. Hanya dahinya saja yang terlihat agak benjol & sedikit memar. Saya sampaikan ke suami supaya dipannya dibongkar saja. Agar kejadian yang sama tidak terulang kembali. Di umur 7 bulan ketika belum ada pagar dan hafidz belum bisa merangkak, dia sudah bisa turun sendiri dari tempat tidur. Tidak ada suara terjatuh dan tidak menangis. Dia menangis hanya karena tidak bisa membuka pintu kamar. Di umur 9 bulan, hafidz sudah bisa membuka grendel pagar tempat tidurnya. Untung saja suara pagar yang terbuka lumayan keras sehingga kami langsung masuk ke kamar. Ternyata hafidz sudah berada di pinggir kasur.

Setelah kejadian ini, satu-satunya upaya untuk menghindari terjadinya hal yang tidak kami harapkan yaitu membongkar dipan. Karena sudah tidak mungkin lagi mempertinggi pagar. Kami sampaikan baik-baik usulan ini ke bapak agar bisa membongkar dipan bersama-sama dengan suami. Alhamdulillah hari ini dipan sudah dibongkar dan akhirnya kami tidur tanpa dipan. Hehehe.

Ketika hal yang tidak kita harapkan terjadi, pertama harus sabar dan jangan panik agar logika masih bisa tetap jalan. Kedua, mengobservasi kejadian dan memeriksa dampak kejadian itu pada anak. Ketiga, bersama-sama dengan pasangan memikirkan solusinya. Di saat seperti ini emosi harus bisa stabil agar bisa berkomunikasi dengan baik dengan pasangan dan akhirnya bisa menemukan solusi terbaiknya.

#Hari9
#Tantangan10Hari
#Komunikasiproduktif
#Kuliahbunsayiip

#ODOPfor99days
#day11

Baca selengkapnya »

Menjaga Lisan

0 comments

Salah satu ciri-ciri penghuni surga adalah tidak ada ucapan yang sia-sia keluar dari mulutnya. Apabila kita ingin menjadikan rumah kita "Baiti Jannati" maka jauhilah perkataan yang sia-sia.

Cara menjaga lisan yang pertama adalah hindari melaknat diri, harta, keluarga, orang lain. Kata-kata yang kita ucapkan adalah doa yang apabila dikeluarkan pada saat yang diijabah, insyaa Allah akan makbul. Saringlah kata-kata yang akan kita keluarkan.

Menurut salah satu teman saya, cara yang efektif untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut atau jemari kita adalah "Tahan 7 detik". Pikirkanlah kembali selama 7 detik apakah kata-kata yang kita ucapkan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain atau tidak. Apabila jawabannya adalah tidak lebih baik tahan, jangan diucapkan. Ingat, perkataan kita mencerminkan siapa diri kita.

Yang kedua, menahan amarah. Kata-kata yang keluar ketika marah lebih banyak dikendalikan oleh emosi, bukan logika. Jangan sampai ketika marah, kata-kata yang keluar melukai orang-orang yang kita cintai. Berikut beberapa cara untuk meredam kemarahan, sesuai petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam:

1. Membaca Ta’awwudz. Rasulullah bersabda “Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A’udzu billah minasy syaithaanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).” (HR. Bukhari Muslim).

2. Berwudlu. Rasulullah bersabda, “Kemarahan itu dari setan, sedangkan setan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah.” (HR. Abu Dawud).

3. Mengubah posisi. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah.” (HR. Abu Dawud).

4. Diam. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah.” (HR. Ahmad).

5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadits dikatakan “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (HR. Tirmidzi).*

Ketiga, bersyukur dengan apapun keadaan kita, karena syetan akan selalu menggoda kita dari depan, belakang, kanan, dan kiri dengan tujuan agar manusia tidak bersyukur atas keadaannya.

“Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,” (Qs. Al-A’raf: 16).

“kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Qs. Al-A’raf: 17).

Semoga kita semua dijauhkan dari perkataan yang sia-sia, agar "baiti jannati" selalu tercipta di rumah kita. Aamiin Yaa Rabb.

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

#ODOPfor99days
#day12

Baca selengkapnya »

Mulailah dengan Senyuman

Selasa, 07 Februari 2017
0 comments


Beberapa hari yang lalu hafidz sedang kurang bersahabat dengan saya dalam masalah makan. Gerakan Melepeh Makanan menjadi salah satu andalannya ketika sedang saya suapi.

Berulang kali mengucap istighfar karena saya kesal, setiap menyuapi dilepeh lagi oleh hafidz. Berulang kali pula suami mengingatkan saya untuk bersabar. Ketika saya sudah tidak mampu menahan kekesalan saya akhirnya saya bertukar peran dengan suami. Suami menyuapi hafidz, saya mengerjakan pekerjaannya.

Selama beberapa hari kemudian saya menjadi kurang bersemangat menyuapi hafidz. Ternyata perasaan itu sampai ke hafidz yang menyebabkan berkurangnya nafsu makan dan berat badannya. Maafkan bunda ya nak...

Hari ini saya mencoba men"switch" emosi saya agar hafidz juga merasakan perubahan emosi bundanya. Siang tadi, saya menyuapi hafidz dengan cara baru. Yang biasanya flat dan ingin cepat-cepat selesai agar bisa mengerjakan pekerjaan lainnya, kali ini berbeda. Saya mencoba rilex dan memulai dengan senyuman tulus untuk mencairkan suasana. Saya mulai menyuapi hafidz sambil melihat hujan dan bernyanyi. Ternyata hafidz senang. Berulang kali dia tersenyum bahagia dan akhirnya menghabiskan makan siangnya. Alhamdulillah.

Setelah kejadian itu saya menyadari bahwa menjaga emosi  dan bahasa tubuh agar tetap positif iti sangat penting. Emosi yang positif pasti akan menular ke lingkungan sekitarnya termasuk anak. Ia akan ikut merasakan emosi yang kita pancarkan.

#Hari8
#Tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

#ODOPfor99days
#Day10

Baca selengkapnya »

Choose The Right Time

Senin, 06 Februari 2017
0 comments

Choose The Right Time

Pemilihan waktu yang tepat adalah salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam komunikasi. Sebagai seorang istri, saya harus bisa mengerti dan memahami kondisi suami. Kapan menyampaikan hal-hal yang penting dan kapan menyampaikan hal-hal yang santai.

Ketika suami sedang fokus mengerjakan suatu hal, tidak akan efektif jika diajak berkomunikasi pada saat itu. Atau ketika suami sedang lelah dan butuh istirahat tidak akan nyambung apabila di ajak ngobrol, apalagi masalah penting. Satu-satunya yang ia inginkan hanyalah istirahat, melepas lelah.

Begitu pula saya, ketika saya sedang lapar, saya tidak akan bisa fokus mengerjakan apapun apalagi diajak berkomunikasi. Pasti jawabannya asal-asalan.

Dengan memahami hal-hal tersebut, biasanya saya dan suami berkomunikasi sesuatu yang penting ketika kedua belah pihak masih fresh, tidak sedang mengantuk atau lapar, dan tidak sedang mengerjakan sesuatu yang penting/mendesak.

Seringnya terjadi miss komunikasi apabila salah satu pihak tidak mengerti dan memahami kondisi lawan bicaranya lalu memaksa lawan bicaranya untuk menanggapinya. Maka, kenalilah kondisi lawan bicaramu, choose the right time to communicate.

#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

#ODOPfor99days
#Day9

Baca selengkapnya »

Say It Clearly

Minggu, 05 Februari 2017
0 comments

Kemarin pagi saya agak sensi. Rasanya pengen marah-marah tapi tidak tahu karena apa. Astaghfirullah. Kemudian saya masuk kamar, merenungi apa yang sedang terjadi. Mungkinkah saya bosan dengan pekerjaan rumah yang monoton dan sudah 3 minggu ini tidak keluar jalan-jalan karena cuaca sedang tidak mendukung.

Sambil menyuapi hafidz, saya mengusulkan ke pak suami untuk keluar jalan-jalan sebentar karena itu salah satu kebutuhan saya untuk meredakan stress. I just need a break for a while. Setelah pekerjaan selesai dan hafidz sedang bermain dengan mbah kung nya pak suami mengajak saya mengirimkan paket. Saya senang sekali dan mengiyakannya. Pulangnya kami membeli siomay dan kami makan bersama-sama di rumah.

Salah satu kesenangan tersendiri bisa break sebentar untuk menghilangkan kejenuhan walaupun cuma ke taman atau sekedar mengantarkan paket keluar. Keinginan yang sangat sederhana, tetapi apabila tidak dikomunikasikan dengan pasangan  ya mereka tidak akan mengerti keinginan kita. Pasangan kita bukan cenayang. So, say it clearly dear.

#Hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

#ODOPfor99days
#ODOPday8

Baca selengkapnya »

Latihan menyampaikan larangan ke anak

Kamis, 02 Februari 2017
0 comments


Sampai saat ini saya masih terus berlatih menemukan pola yang pas untuk menyampaikan larangan ke anak. Biasanya saya akan melarang anak ketika itu membahayakan dirinya, atau berpotensi membuat ia sakit, atau berhubungan dengan kebiasaan yang tidak baik. Di luar itu sepanjang tidak membahayakan saya membiarkan ia berekaplorasi dengan pengawasan.

Pertama kali saya biasanya mencoba menggunakan bahasa lisan untuk melarang anak. Misalnya ketika anak bermain colokan listrik saya arahkan untuk bermain di dekat saya dengan mengalihkan permainan yang lebih menarik. Ketika belum mempan saya mengingatkan lagi apabila bermain di situ berbahaya. Sambil mencabut charger yang masih menempel di colokan. Ketika belum berhasil yang terakhir saya gendong dia menuju tempat yang lebih aman untuk mengalihkan perhatiannya. Tapi pilihan yang terakhir itu pasti dengan konsekuensi ia meronta-ronta, menangis tidak mau berpisah dengan mainannya.

Saya tidak tahu apa yang saya lakukan ini benar atau salah. Saya pun juga sudah berusaha menjelaskan padanya apabila bermain colokan itu berbahaya, tapi mungkin anak saya yang masih 13 bulan belum memahami kenapa bisa berbahaya. Begitu pula ketika dijelaskan tidak boleh mainan di luar ketika hujan. Malah dia tambah semangat mengajak keluar. Jadilah saya menggendongnya untuk melihat hujan di pintu. Ini menjadi salah satu PR bagi saya untuk terus mencari cara yang terbaik menyampaikan larangan kepada anak. Bismillah, semangat.

#tantangan10hari
#hari5
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

#ODOPfor99days
#ODOPday7

Baca selengkapnya »
 
Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Clock

About Me

Foto saya
I am balancing person... Trying to keep all of things in my life balance.. Now I'm trying to make my life more useful to others by learning and sharing more, earning and giving more.

networkedblogs

© 2010 Keep Balancing Design by Dzignine
In Collaboration with Edde SandsPingLebanese Girls